January 22, 2005

Kisah Sedih di Hari Jumat

21 Januari 2005;
jantung itu berhenti berdetak

sebuah nafas berhembus untuk trakhir kalinya
sang jiwa terbang meninggalkan raganya
untuk selamanya meninggalkan dunia
terlepas dari derita

"Teh, Ibu ama Bapak ke mana malem2 gini?"
"Bapaknya Olip meninggal"
"Hah?"
"Bapaknya Olip meninggal"
"Siapanya Olip?"
"Bapaknya"
"Meninggal?"
"Iya"
"Bapaknya Olip meninggal?"
"Iya"
"Serius?" *ay masih ga percaya pendengarannya*
"Ga, ay, gw becanda"
"Bukannya sehat2 aja?"
"Kata siapa? Udah lama sakitnya.."
"Karna...rokok ya?"
"Kali"

"Knapa ay?"
"Ga kebayang kalo suami ay meninggal..."
"Ya jangan dibayangin"
"Ngebayanginnya aja udah pengen nangis. Apalagi beneran.. blablablablabla (curhat ga puguh soal kematian). Hmm, Teh, besok kita harus ikut tahlilan ga?"
*wajah Teteh udah nunjukkin kemalasan yg super amat luar biasa*
"Ga tau"
<"Ga Tau" dari Teteh brarti "Iya, ay, kita harus dateng tahlilan. Gw juga males jd jangan protes ke gw.." Gw kembali tercenung memikirkan rencana malam minggu yg harus dihapuskan dari agenda. dengan hati super amat luar biasa berat sekali, rencana pergi ke bazaar SMUN 2 bareng tmn2 gw harus batal>

Pas nyokap gw dateng...
"Kapan dikuburinnya, Bu?"
"Besok, pagi2"
"Trus..euu..keadaannya gimana?"
"Ya udah meninggal lah, ay. Orang meninggal keadaannya kayak apa?"

Malas melanjutkan tanya-jawab, akhirnya gw pergi ke kamar sambil ngasitau temen2 gw kalo gw batal pergi ke bazaar SMA 2. Suara Bapak memberi kabar ke smwa kenalan keluarga lewat handphone masih terdengar sampai kamar. Di kamar, gw curhat skalian ngasihtau gw batal ke bazaar SMA 2 sama Ratih.

"Tih.. Gw ga jadi ke bazaar dua."
"HHHHHAAAAAAHHHHH??????!!!!!!!! Yaaa Aaaayyyy"
"Tunggu dulu, tunggu dulu.. Paman gw meninggal"
"Innalillahi.."
"Iya. Innalillahi. Tapi Tih... blablablablabla"
Mulai lah gw curhat bahwa gw sempet dilemma. Kepala gw bilang gw harus ikut tahlilan dan keluarga lah yg terpenting walau ga deket2 amat ama gw. Sedangkan hati gw pengen gw pergi ke bazaar dua menghamburkan malam bersama Adis, Fahri, Winna, Ratih dan Bayu-nya, dan teman2 lain. Sambil rebahan di tempat tidur, gw mulai ngerelain keinginan gw itu. Bersama Ratih, gw berdoa supaya hal seperti ini tidak terjadi saat bazaar Lima dikarenakan suatu janji pada sahabat2ku bernama Tractor Beam.

Selesai menelpon Ratih, rasanya masih ga puas kalau gw ga cerita ke org lain lagi. Jadi di sini lah gw, dengan jari2 menari di atas keyboard pada pukul 11 malam, penuh rasa syukur bahwa gw masih punya bokap gw dan keinginan besar untuk bercerita bahwa dilema yg gw alami bener2 nunjukkin kalau gw manusia rendah.

Sekian dan terima kasih.
Terutama kepada hari Jumat super amat luar biasa hitam sekali ini, tengkyu pisan udah bikin gw jadi cinta sama hari esok.

No comments: