in·teg·ri·tas n mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran; (KBBI, 2008)
Tidak menerima hadiah atau uang dari klien bukan lah aturan yang baru dalam dunia per-konsultan-an. Tapi tadi siang saya dapat pengalaman baru. Saya diberi uang rapat oleh klien kantor saya. Kalian bisa tebak sendiri, klien saya ini institusi pemerintah dan memang punya aturan yg melegitimasi pemberian uang rapat bahkan kepada konsultan. Ketika disodorkan amplop uang rapat, konsultan senior saya blg, "Wah Bapak, seharusnya konsultan tidak menerima ini loh" dan saat saya tanya lg, konsultan senior saya berkata seperti itu hanya utk menjaga citra konsultan saja. Beliau sudah tahu bahwa menerima uang rapat memang diperbolehkan dan sudah ada aturannya.
Cerita di atas memang ga ada hubungannya sama suap-menyuap dan integritas. Tapi saya jadi teringat proyek saya dengan klien kantor yang lain. Proyek yg lain ini rawan suap-menyuap banget antara calon rekan kerja klien dan klien, makanya pekerjaannya ditangani oleh kantor saya sebagai pihak ketiga. Akibatnya, kami-kami ini yg jadi orang-orang pertama yg digoda dengan 'hadiah-tanpa-maksud-tapi-bohong'. Atas nama integritas dan menjaga citra baik institusi yg memayungi kantor kami, kami menolak uang - tanpa maupun dengan maksud tertentu - dari calon rekan kerja klien.
Alhamdulillah sampai saat ini, kami tidak pernah menerima sepeser pun uang suapan. At least, saya dan teman-teman. Saya belum pernah melihat dan merasakan alasan untuk menerima uang pelicin, sampai sekarang.
Sebelumnya, saya pikir, "Kenapa sih orang mau aja disogok? Ko bisa ya orang-orang segitu rakusnya?". Yah, akhirnya saya ngerti juga kenapa ada aja orang yg berhasil disogok. Mereka mungkin sedang butuh sekali uang, seperti saya saat ini. Ya memang ada saja orang-orang yg pada dasarnya maruk, tapi saya yakin ada juga kumpulan yg jadi terjebak karena kondisi.
Saat situasi finansial saya baik-baik saja, rasanya lebih gampang utk mengerti dan menjalankan nilai-nilai integritas. Kenapa? Karena saya ga butuh-butuh amat juga sama sogokan yg mereka tawarkan. Sekarang, jujur saja, sudah tanpa malu lagi saya akui saya butuh uang. Andaikata dalam waktu dekat ini saya disogok, saya perlu berpikir dua kali untuk menolak. Tapi apa sulitnya kondisi finansial menjadi suatu alasan valid utk menerima sogokan? Tentu saja tidak. Karena tak pernah ada alasan valid untuk itu.
Saya jadi tersadar, mungkin selama ini saya terlalu remeh memandang integritas. Sampai baru-baru ini, hidup saya cukup indah - dalam artian, integritas tidak pernah harus dipilih. Sekarang saya mengerti bahwa menjalankannya tidak lah semudah itu jika integritas berhadapan dengan realita hidup. Mungkin di situ lah letak integritas yang sebetulnya berada, saat dia berhadapan dengan realita, karena memilih dan memperjuangkan integritas akan butuh pengorbanan. Dan pengorbanan itu lah yang akan membuat integritas berharga.
"One of the truest tests of integrity is its blunt refusal to be compromised" - Chinua Achebe
"Compromise is usually a sign of weakness, or an admission of defeat. Strong men don't compromise, it is said, and principles should never be compromised." - Andrew Carnegie
1 thoughts aloud:
"..principles should never be compromised." :)
Post a Comment